Ceritanya Sef

Januari 27, 2008

Kantor Pelawak

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sef @ 11:10 pm

Nun jauh sebelum menjadi PNS seperti sekarang, aku pernah coba-coba ngajar les privat pada anak orang kaya. Gimana ngga kaya, kedua orangtuanya adalah seorang pengusaha sukses yang super sibuk. Setiap mau mengajar yang kutemui cuma si anak itu sama pembantunya yang jumlahnya ada 4 orang.

Yang berabeh pas mau minta honor ngajar, mau minta sama siapa secara aku ngga pernah ketemu lagi sama orangtuannya. Untunglah mba Noni (salah satu pembantunya) ngasih pencerahan. Katanya, honorku bisa di ambil di kantor ibunya, disana sudah dipersiapkan. (lagi…)

Januari 21, 2008

Kata Fadil Kangen Band Jelek

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sef @ 1:50 am

kangen-band.jpeg Kalo cuma kata itu aja yang terucap, aku ngga masalah tapi pas Fadil mulai menghujat, menghina dan menunjukan ketidasukaan secara berlebihan sama Kangen Band, itu sudah keterlaluan. Apa salah mereka?

Emang sih dari segi musikalitas, band yang berpersonil enam orang masih kurang apalagi tampang mereka yang pas-pasan, ndeso. Toh hal tersebut tidak mengurangi kesuksesan Kangen Band. Faktanya adalah hingga saat ini album perdana mereka telah terjual lebih dari 500 ribu kopi, artinya meraka telah mendapatkan double platinum, merupakan prestasi yang sulit diraih band-band pendatang baru bahkan band papan atas sekalipun. (lagi…)

Januari 13, 2008

Rahasia Sukses Perantau Dari Tegal

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sef @ 11:34 pm

imageswarteg.jpeg Siapa sih yang ngga kenal orang Tegal, bukan semata logat bahasa yang aneh, mereka (kami) dikenal sebagai orang-orang yang tangguh, pantang menyerah, kreatif ; ) narsis mode, halah.

Seperti suku viking di Skandinavia, masyarakat Tegal juga suka merantrau (bahasa kerennya : berpetualang) ke daerah lain untuk mencari peruntungan mereka, tak heran kita bakalan mudah menemukan orang Tegal dengan berbagai macam profesi seperti penjual martabak, pengusaha warteg, dan PNS di kota-kota besar di seluruh nusantara bahkan ada penjual martabak Tegal di Copenhagen (aseli yang ini ngarang). (lagi…)

Januari 9, 2008

Resolusi…Resolusi…Reformasi…

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sef @ 3:23 am

Sepekan sudah meninggalkan bunyi-bunyian trompet dan pesta kembang api dimalam tahun baru. Harapan dan pengharapkan didengungkan di awal tahun 2008 yang dibungkus dalam suatu resolusi.

Tapi kalo yang beresolusi tuh temen-temenku yang di Mess, huhhh bisa asal.

Wiadada misalnya, resolusi dia di tahun 2008 adalah ingin berhenti menduduki jabatan bendahara mess yang katanya udah seperti kutukan. Tapi pengharapan itu bakalan menemui banyak tentangan dari temen-temen yang meniginginkan Widada tetep jadi bendahara mess seumur hidup. Untungnya hingga saat ini Widada masih menduduki posisi terhormat tersebut, dan dia cuma bisa bilang “capek…capek…capek…deeeh…” (lagi…)

Januari 7, 2008

Beda Sapi dengan Kerbau

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sef @ 12:06 am

Si Sapi…iDiliat-liat ukuran dan bentuknya sama yang mbedain warnanya doang, yang satu warnanya putih dan satunya lagi hitam, tapi kucing tetangga, sihitam dan siputih tetep saja disebut kucing.

“Mak, apa beda sapi sama kebo?” aku masih inget pertanyaan yang aku lontarkan pas aku masih kecil, ingusan, bisulan lagi, pokoknya dulu banget deh.
Ibuku jawab “kalo sapi perempuan kebo itu laki”

Kepalaku mengangguk-angguk memikirkan relevansi jenis kelamin tersebut dengan kebo dan sapi. Dipikir-pikir emang bener juga sih. Bayangin, selama ini yang ada kan susu sapi tapi kalo susu kebo…mana ada, aku juga ngga pernah nyusu ke bapa. (lagi…)

Januari 1, 2008

And Story Goes…

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sef @ 7:05 am

Angin mulai meniup-niup menerbangkan daun-daun berguguran, menghujani aku dan permaisuri.

Permaisuri, begitu aku menyebutnya. Wanita dengan paras lembut, bermata lentik, berlesung pipit, bibir merah merekah tanpa polesan kemudian dibalut dengan kerudung yang mebuat ia semakin anggun dilihatnya.

Yang lebih penting adalah hatinya begitu menawan jika digambarkan ia adalah mata air di atas gunung yang paling tinggi, sangat teramat bening. Aku semakin jatuh hati.

Angin kembali meniup-niup menyegarkan dua insan yang sedang dimabuk asmara.

Mulut ini seperti terkunci, tak bisa berkata apa-apa hanya bisa merasakan betapa nyamannya dia disampingku. Oh permaisuri, dia kembali tersenyum.

Ditaman yang penuh bunga dan dikawini oleh kupu-kupu, di depan anak-anak yang sedang berlarian riang, dibawah langit biru seolah mengamini perasaanku, aku memberanikan diri tuk berucap ”Permaisuri…maukah kau menikah denganku?” (lagi…)

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.