Ceritanya Sef

Maret 10, 2008

Kamus Bahasa Ambon (bag.2)

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sef @ 7:30 am

Melanjutkan postingan sebelumnya mengenai Bahasa Melayu Ambon, kali ini aku membuat sambungannya. Walaupun statusku hanya pendatang di Kota Ambon dan belum genap 2 tahun menetap disana, aku mencoba menjabarkan kata-kata unik yang biasa dipakai masyarakat Ambon, tentunya masih menggunakan jurus andalanku yaitu : sok-tahu.

Efisiensi adalah salah satu ciri khas dari Bahasa Ambon, mau bukti, kamu bakalan menemui kata-kata yang singkat, padat dan jelas. Contohnya sebagai berikut :
1. Seng

Ilustrasi :
“Makan seng mati, seng makan juga mati” (di kutip dari coment-nya Adis).
Jangan bingung sama ungkapan diatas. Orang Ambon sering menggunakan kata seng dalam berkomunikasi. Seng artinya tidak.

Jadi kalau ungkapan diatas tadi diterjemahkan hasilnya jadi : “makan seng mati, tidak makan juga bisa mati”.

2. Dong

Ilustrasi :
“Mari, dong semua dukung Wilson di Indonesian Idol”
Ternyata kata dong artinya kalian. Nah, jelaskan maksud dari ungkapan di atas.
Kata dong bisa jadi beda maknanya kalo yang menggunakan Pak Ogah, seperti jargon andalannya di serial Si Unyil “bagi cepe-nya, dong!”.

3. Nyong

Ilustrasi :
“Hai nyong, mau kemana?”
Eit, kalo ada orang Ambon berkata seperti itu kepada kamu, jangan dulu emosi. Dia pasti tidak bermasud mengatakan kamu monyong, karena nyong disini merupakan sebutuan untuk laki-laki, artinya hampir mirip seperti bang atau bung.

4. Lai

Ilustrasi :
“Belum ada yang datang kemari, lai
Kata lai diatas tidak dimaksudkan untuk memanggil nama seseorang, seperti Lai-la apalagi jab-lai. Kata tersebut mengadung arti sebagai berikut :
a. Tidak mengadung arti apa-apa, hanya kata pelengkap saja.
b. Bisa di artikan menjadi lagi.

Selain itu, dalam Bahasa Melayu Ambon juga dikenal penyingkatan kata hingga menghasilkan kata yang sangat irit. Diantaranya sebagai berikut :

1. Jang → Jangan
2. Deng → Dengan
3. Su → Sudah
4. Sa → Saja
5. Pi → Pigi → Pergi

Ada lagi yang unik disini, kami juga paling suka merubah huruf “n” di akhir kata dan dignti dengan huruf “ng”.

Trivia :
Ubahlah kalimat berikut menggunakan Bahasa Ambon.
“Jangan makan ikan asin”

Jawaban :
“Jang makang ikang asing” hahahah….

& Komentar »

  1. om sef dah beli kamus bahasa ambon belom?/ *promosi mode on*
    :ngumpet:

    untung belom ada “parapa” + “jang pawela nyong….”
    :mrgreen:

    eh om sef skr posisi dimana? ambon atawa ternate?

    Komentar oleh almascatie — Maret 10, 2008 @ 10:47 am | Balas

  2. ana ana bae :lol:

    Komentar oleh Rezki — Maret 10, 2008 @ 8:04 pm | Balas

  3. ternyata lucu juga ya bahasanya :)

    Komentar oleh hanggadamai — Maret 11, 2008 @ 1:56 am | Balas

  4. wuaah.. kosakatanya sef banyak juga yah??
    jang-jang nyong sudah dapet orang ambong?

    Komentar oleh rwidagdo — Maret 11, 2008 @ 8:06 am | Balas

  5. mirip mirip!

    Gresik ada sun, esun yang artinya aku!

    Komentar oleh tony — Maret 11, 2008 @ 1:04 pm | Balas

  6. Sabantar sa pi main bola…kyahahaha

    Komentar oleh Adis — Maret 12, 2008 @ 7:32 am | Balas

  7. unik…unik..unik….
    nanti klo dah jadi kamusnya jgn lupa dipatenkan hihihihi :mrgreen:

    Komentar oleh theloebizz — Maret 12, 2008 @ 3:44 pm | Balas

  8. Sef, coba kamu telusuri lebih lanjut…
    itu gejala bahasa AKULTURASI ato ASIMILASI…
    aku koq malah bingung…..

    Komentar oleh widada — Maret 17, 2008 @ 3:29 am | Balas

  9. numpang liwat..
    ternyata, bahasa sana sama flores mirip2..

    Komentar oleh Satrio — Maret 20, 2008 @ 8:29 am | Balas

  10. @almascatie: beta seng pawela, beta ada di Ambon niy.
    @rezki: kangen aku maring bahasa Tegal, heheh.
    @hanggadamai: yang lucu bahasanya ataw orangnya?
    @rwidagdo: wah Edo baru mbaca postinganku langsung bisa ngomong Ambon, hebat.
    @tony: mirip dimananya, Mas?
    @adis: hahahaha…
    @theloebizz: klo dah jadi buku, kamu mo beli ndak?
    @widada: coba Wid, terangi aku, gejala akulturasi sama asimilasi itu apa? Nda mudeng aku.
    @satrio: satrio dari flores?

    Komentar oleh sef — Maret 24, 2008 @ 4:59 am | Balas

  11. hallo pa khabar dong samua bae bae sa, beta tinggal di depok (desa poka) rumah tiga tepatnya tanjung marthafons selama 13 thn jd su rindu berat deng katong pung tanah aer ke 2 bahkan beta pung anak pertama lahir di rs kudamati, ok dong basudara samu salam rindu dari katong yg dimajalengka jawa barat utamanya par om dan tanta, nyong dan nona, tunggu beta jua par baku dapa

    Komentar oleh dedi di majalengka — November 18, 2008 @ 1:05 am | Balas

  12. “awas e” makang bole sabarang tapi bicara jang sabarang..jang beta bala se..

    Komentar oleh Ai — Maret 17, 2009 @ 12:46 am | Balas


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.