Diberitakan, ombak di perairan Maluku tingginya dapat mencapai 5 meter. Kapal-kapal kecil diperingatkan untuk sementara tidak diperbolehkan berlayar. Dasayatnya ombak telah memakan beberapa korban jiwa, sebagian besar karena perahu yang terguling akibat hantaman ombak.
Maluku merupakan daerah kepulauan dan masyarakanya tersebar di antara pulau-pulau tersebut. Jadi sangat maklum kalau orang Maluku sangat akrab dengan yang namanya kapal. Disini pula aku mengenal jenis-jenis perahu dari yang kecil sampai besar.
Tugas dari kantor mengharuskan aku menuju pulau Saparua yang jauhnya sekitar 10 KM dari pulau tempatku bekerja, Ambon. Kendaraan yang musti aku tunggangi sampai ke tempat tujuan adalah kapal kecil dengan suara mesin yang amat berisik yaitu speedboard.
Memang, laut di Maluku mulai tenang dan kapal-kapal kecil juga sudah beroperasi. Namun masih ada rasa was-was akan hadirnya ombak besar yang tak terduga, lagipula aku juga tidak dapat berenang. Ingin rasanya menolak tugas tersebut.
Berbagai cara ku pikirkan agar aku dapat selamat dari horor ombak Maluku. Dan terpirkirlah sebuah alat bernama pelampung. Aku harus pakai pelampung selama di kapal. Namun ku urungkan niat itu, karena :
- Aku tidak punya pelampung.
- Malu. Tidak ada tradisi penumpang speedbord pakai pelampung.
Cara lain mulai ku pikirkan, harus ku temukan sesuatu yang dapat membuatku tenang saat di perjalanan. Selama berhari-hari berpikir, merancang dan berkreasi, maka “aha” jadilah alat yang aku inginkan. Seperti ini :

