KRD – Kereta Rel Diesel, terutama yang beroperasi di Jabodetabek, siapa yang tidak mengenalnya. Murah meriah, menjangaku hampir seluruh wilayah ibukota serta bebas macet pula. Tak heran jika kendaraan berangkai-rangkai itu menjadi primadona bagi warga setempat.
Mulai dari karyawan berdasi, pedagang, mahasiswa, pekerja kasar, pengamen, hingga yang paling menjadi parasit – pemalak, pencopet,penodong dan sebangsanya, tumpah ruah terangkut menggelilingi Jakarta.
Malang bagi Udin, temanku, salah satu pengguna layanan KRD yang harus berurusan dengan si parasit.
KRL yang direncanakan berangkat pukul 11.30 WIB ternyata baru berangkat dua jam kemudian dikarenakan perubahan jadwal (lagi). Sia-sia usaha Udin dan seumat penumpang lainnya yang telah selama hampir satu jam menunggu kereta berlistrik tersebut. Sebagai gantinya KRD usang udiklah yang akan berangkat.
Kereta telah sampai stasiun Palmerah, siap mengangkut para penumpang yang sabar menunggu. Berduyun-duyun mereka memasuki rangkaian gerbong KRL.
Udin berlari kecil menuju gerbong paling ujung karena disanalah tiada orang mengantri masuk. Udin adalah mahasiswa dan berpenamilan layaknya mahasiswa, bertopi, tas ransel, kaos junkies dan celana levis hingga dompet dan mungkin Hp-nya tersembul dari celananya yang ketat. (lagi…)
