Setelah melalang buana ke propinsi bagian timur Indonesia dan harus singgah dari satu pulau ke pulau kecil lainnya, yang berarti harus menempuh perjalanan darat, laut dan juga udara, aku baru sadar bahwa naik pesawat tidak lagi identik dengan kemewahan.
Hmmm, pernah suatu saat di depanku penumpang ibu-ibu membawa tas belanjan berisi sayur-mayur. Kita menunggangi pesawat kecil dengan suara mesin yang aduhai kerasnya memekakan telinga. Bahkan temanku juga pernah sepesawat dengan penumpang berkaki empat, jenggotan, bau pula – alias kambing.
Banyak kejadian unik kulami, banyak cerita terdengarkan, seputar romantika penerbangan pesawat-pesawat tak gagah mengantarkan kami, menghubungkan antar pulau yang hampir terisolasi. Berikut secuil kisah-kisah itu.
***
Sebagian penumpang mulai mengeluh, bahkan beberapa memaki-maki. Pesawat yang telah penuh penumpang seharusnya tinggal landas setengah jam lalu, belum juga melaju. Pramugari yang sedikit kebingungan mulai merayu para menumpang.
“Para penumpang yang budiaman, siapa yang bersedia mengundurkan diri, dan dapat meneruskan perjalanan dengan pesawat berikutnya!” Keadaan menjadi hening kemudian suara-suara keluhan kembali terucap. Tak satupun penumpang yang mau meng-cancel penerbangan mereka. (lagi…)
