Pada hari minggu ku turut ayah ke desa
naik mobil istimewa ku duduk di muka
di samping pak sopir yang sedang bekerja
mengendali angkot supaya baik jalanya ….
Begitulah hati kami bernyanyi-nyanyi, aku dan saudara sepupuku yang datang dari Jakarta. Hari itu kami hendak mengunjungi rumah saudara yang berada di kaki Gunung Selamat. Perjalanan memang jauh, namun hanya menggunakan angkot kita sudah bisa sampai tujuan.
Sepupuku asyik dengan kamera yang dibawanya mendokumentasikan indahnya pemandangan desa. Sengaja kita duduk didepan, disamping pak supir agar perjalanan tersasa menyenangkan. Hijaunya hamparan sawah, bukit-bukit datang silih berganti diselingi dengan sungai yang berkelok-kelok, dapat terlihat lebih jelas.
Akhrinya sampai juga, perjalanan tadi sangat menyenangkan. Angin di sana sangat kencang, kerongkonganku terasa kering. Waduh, aku kelupaan air minum yang dibawa dari rumah.
“Tau aqua botolku, gak ?” tanyaku.
“Bukannya tadi Luh taro di depan tempat duduk kita, waktu di mobol angkot”
“Oh iya, Gue lupa. Berarti ketinggalan di angkot”
“Makanya jangan teledor”
Sepupuku yang dari kota benar-benar terpana dengan keasrian suasana desa. Tak sabar ia ingn memphoto gunung yang gagah berdri di depannya. Namun,
“Luh pegang kamera gue, yah !”
“Ngga, emang terakhir Luh taro mana ?”
Sepupuku memegang keningnya, sambil mengingat-ingat.
“Ya ampun, tadi kameranya gue taro d samping aqua botol punya luh”

yeee……..
Komentar oleh maipura — Juli 14, 2008 @ 11:26 pm |
Mobol angkot tu apa ya??
Komentar oleh Adis — Juli 15, 2008 @ 2:31 am |
yah…sama aja…
Komentar oleh arifah — Juli 19, 2008 @ 10:36 am |
Lah…kepriben kiye…daning pada kelalen kabeh
Komentar oleh Rezki Handoyo — Juli 21, 2008 @ 8:14 pm |