Ceritanya Sef

Januari 1, 2008

And Story Goes… (part2)

Filed under: Uncategorized — sef @ 6:54 am

Ngga nyangka kita bakalan mendarat dan memulai hidup baru di Kota Ambon. Kota asing, yang terpisah jauh dari induk Indonesia yaitu Jawa karena dia dibelah oleh ribuan mil laut dan di pisahkan oleh puluhan pulau hijau. Namun dengan segala keterbatasannya, Ambon tetaplah kota penuh pesona.

Kota Ambon

Nah pas sampe Ambon, aku baru nyadar disini adem ayem udah ngga ada kerusuhan, preman juga ngga ada, kalaupun ada itu cuma kuli terminal yang tampangnya sangar, item, jelek, tatoan, idungnya gede, rambut gimbal, tapi sebenernya hatinya baik. Oh so sweat.

Jangan marah kalau di panggil nyong, karena nyong disini bukan kita dikatain monyong tapi nyong adalah sapaan untuk seseorang mungkin bahasa Indonesianya ”bung” kali ya.

Masih banyak kata-kata yang harus mikir dua kali tuk mencernanya. Tapi sekarang beta sudah bisa diajak ngomong bahasa Ambon, beta su siap nyong.

Balik lagi kecerita awal. Akhirnya kelar mandi juga walaupun harus ngirit-ngirit air. Mobil di luar siap berangkat klo ngga cepet-cepet dandan bisa ketinggalan. Eit, aku lupa kasih makan Darto.

Darto
Yang ada tinggal nasi sisa, ngga papa deh yang penting dia bisa makan. Kalo dah kelaperan gitu apapun bisa dimakan. Darto terakhir dikasih makan dua hari yang lalu.

Darto adalah burung nuri yang dikasih temen buat anak-anak mess, dia pikir kita akan terhibur dapetin burung itu. Padahal temen-temen pada males kasih makan ke dia apalagi Fadil yang kamarnya bersebelahan sama kandangnya Darto karena setiap pagi si burung nuri suka teriak-teriak sama seperti tetangga kamar sebelahnya, Fadil takut tersaingi Darto kali.

Pernah waktu liburan kemaren, dia ditinggal naka-anak pulang mudik. Diitung-itung udah semingguan ngga ada yang kasih makan dan minum ke dia. Kasihan Darto.

And story goes
Temen-temen sudah duluan menuju mobil plat merah dengan nomor seri 220 yang biasa membawa kami ke kantor. Mereka duduk manis memadati mobil tua itu dan menyisakan satu tempat buat temanya yang masih ada di mess. Kemudian, teeet…teeet…teet, bel mobil mengisyaratkan agar aku cepat keluar kalo ngga bisa ditinggal.

Selesai memakai pakaian lengakap, langsung aku sambar tas bututku, dan mengacuhkan cermin sahabat si pesolek.

Sambil berlari kecil, kutenteng sepatu dan kaos kakinya, biar nanti saja ku pake di mobil, yang penting ngga ditinggal lagi.

Kemudian bergabung dengan mereka dan berdesak-desakan, mengawali keributan kecil di mobil yang sumpek. Formasi sudah lengkap, mobil pun ditancap.

And Story Goes…

Sekarang aku siap melangkahkan kakiku lagi, kembali menjalani kehidupan yang realistis. Berharap dapat terus tersenyum, dengan begitu serasa mendapatkan rasa manis dalam permen nano-nano, that’s live.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: